Minggu, 23 September 2012

Cerpen: "Jembatan & Kepala" oleh Aprilia Lia


Perlahan bias-bias halus yang bagai dituangkan dari langit menimpa tubuhku. Semakin lama semakin banyak. Terasa dingin mulai menggigit tubuhku. Lalu merayap menebus tulang. Terasa sangat ngilu dan menyiksa sekali.Aku melihat bias-bias halus yang dingin itu menimbuni tubuhku yang tidak bergerak-gerak, dan tak berdaya. Aku membenci ketidak berdayaan seperti ini. Aku memang benci dengan kata tidak berdaya. Dingin yang disebabkan timbunan bias-bias halus itu semakin menyiksa. Dingin semakin tajam menggigit jari-jariku  hingga terasa sangat beku. Ah…. Aku tak bias membiarkan tubuhku sedemikian rupa tanpa melakukan apa-apa sama sekali! Aku merutuk meradang dan memaki-maki pada seonggok tubuh yang diam itu.
Lantas dengan menghimpun bias-bias dari langit itu, aku menyusup ke dalam onggokan tubuh diam itu. Terasa beku karena dibalut dingin yang terlalu lama. Dan sekarang bias-bias dingin itu bagai membari kekuatan untuk segera melawan kebekuan yang diakibatkannya, lalu perlahan, ujung jariku bergerak, terus menuju bagian bawah dan kakikupun bergerak pelan.
          Aku berhasil!
Ternyata bias-bias embun yang menebal di tubuhku membuat aku merasa kedinginan. Syaraf-syarafku yang semula terasa mati, pelan-pelan mulai bekerja dengan baik. Kurasakan rumput-rumput tempat aku tergolek juga basah oleh embun malam. Langit lewat tengah malam masih rajin menuangkan bias-bias dinginnya. Dan terasa konyol sekali bila membiarkan tubuhku berbaring terus-terusan di atas rerumputan yang dingin.
          Setelah menghimpun kekuatan penuh, aku bangkit dan terasa ada sedikit keanehan pada tubuhku. Teras lebih ringan dan kuat. Pandanganku terasa demikian jauh menebar menembus kegelapan semak-semak rapat di depan sana.
          Sesaat aku terpaku begitu mendengar gemerisik air sungai yang begitu nyaring. Disambut dengan kesiuran angin yang mengibas-ngibas pendengaranku. Hei, ada apa ini? Aku semakin heran dengan keanehan yang terjadi pada diriku sendiri tanpa aku tahu keanehan apa itu?
          Masih dengan bingung aku merayap di kegelapan malam. Menyibak semak-semak yang menghalangi langkahku. Namun aku bias melihat dengan baik. Dan jarak pandang yang luas, membuat aku bagai merasa mempunyai sepuluh pasang mata saja.
          Mengeluh aku menaiki tanjakan untuk bias sampai ke bibir jalan raya. Sebentar saja jalanan lenggang telah membentang dihadapanku. Dari tempat aku berdiri tampak sebuah jembatan tua yang melintang di atas sungai. Yang membatasi kompleks perumahanku dengan kampung sebelah.
          Beberapa buah lampu jalan bersinar redup menerangi sepanjang jembatan tua itu. Dari sinarnya, aku dapat menangkap pantulan bias-bias embun yang berjatuhan dari langit kelam. Aku menggigil begitu angin lembab menerpa tubuhku. Terdengar nyaring dan aneh. Apalagi gemercik air sungai di bawah sana yang membuat perasaanku menjadi tidak enak. Tiba-tiba aku menjadi tidak suka suasana seperti ini.
          Aku seperti melihat sesuatu. Cepat aku melangkah ke arahnya. Ah! Sepedaku tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Setelah ku periksa sedikit lecet dan kerusakan tak berarti pada beberapa bagian. Tak apalah, yang penting masih bisa di pakai untuk mendatangi tempat nongkrongku bersama teman-teman di kampong sebelah, seperti rencanaku sebelumnya.
          Aku mulai mengayuh sepedaku. Memasuki mulut jembatan tua yang remang-remang penerangannya itu. Sementara itu kesiuran angin menimbulkan perasaan aneh. Gemercik aliran air sungai di bawah sana terasa menggangguku, aku tidak menyukainya. Buru-buru aku mengusir bayangan buruk yang mengusik perasaanku itu dengan mengingat-ingat peristiwa sepanjang pagi tadi.tapi yang terpampang justru pertengkaran papa dan mama.
          “Lama-lama aku semakin tidak menyukai mereka,” kataku ketus. Ajik menoleh tak mengerti dengan mulut yang asik menggiriti rumput. Saat itu kami berada di belakang laboratorium sekolah, tempat terpencil, dan paling sepi di sekolah. Punggung kami bersandar pada dinding sumur tua yang sudah tidak terpakai lagi. Sementara rumput menyemak di sana-sini di bawah kerindangan pohon sukun.
          “Mereka?” Ulang Ajik meringis, sambil meludahkan batang rumput yang mungkin sudah terasa pahit.
          “Orang tuaku.”
          “Ribut lagi?”
          “Ahh, kamu jangan terlalu cengeng. Udah klasik. Jadi tinggal kitanya saja jangan terlalu larut di dalamnya.” Ujar Ajik berusaha bijak.
Aku mengerutkan kening, meliriknya heran.
          “Eh, aku udah enggak mikirin lagi apa yang diperbuat oleh orang tuaku. Ingat kamu enggak beda jauh denganku, jadi jangan cengenglah!”
          Aku kembali mengendus, meskipun sudah hal yang klasik dan terlalu banyak kelurga seperti itu, rasanya selalu saja aneh dan membingungkan. Dimana-mana kita pasti mengharapkan tinggal dalam keluarga yang berbahagia, damai dan selalu menyayangi. Namun, terkadang harapan tidak selalu terkabul.
          “Udah Gus, jangan terlalu dipikirin. Selama mereka masih memenuhi kebutuhan dan digit rekening kita selalu bertambah, buat apa memusingkan apa yang mereka perbuat? Toh, kenyataan mereka juga enggak ambil pusing dengan keberadaan kita ditengah-tengah mereka.”
          Ajik melemparkan asap berbentuk acak ke udara.
          Ah, aku yakin sebenarnya dia juga ingin menghibur dirinya sendiri, dan berusaha tampak biasa dihadapanku. Keadaanya memang tidak bebeda denganku, namun ia berusaha menegarkan diri.
          Bel memecahkan kebisuan yang tercipta begitu saja. Aku langsung bangkit, diikuti oleh Ajik.
          “Eh jangan lupa nanti malam. Kalau kamu mau datang, datang aja. Di kampung kita bakal ada pesta,” ujar Ajik mengingatkan, lantas melangkah ke kelasnya.
          Aku mengerti pesta macam apa yang akan diadakan Ajik dan teman-temanku yang lain di kampung. Kampung memang tempat kami biasa berkumpul. Semuanya diawali ketika… huh, kembali suara-suara meradang membuatku tercekat. Aku menggerutu meski aku sudah terbiasa dengan hal demikian. Orang tuaku saling mamaki dan menyudutkan bahwa merekalah yang paling benar. Mereka tidak tau betapa egoisnya mereka di mataku.
          Aku tidak jadi menegak air dalam botol yang baru saja ku ambil, karena tenggorokanku terasa sangat kering dan haus sekali, tadi. Mereka belum juga berhenti. Aku menggigil menahan marah yang menyerang dadaku hingga menggelegak.serta merta aku membanting botol di tanganku ke diding.
          Prang!!!
          Mendadak hening, aku melintas tanpa suara didepan mereka. Lalu menyambar sepeda balapku di bawah pohon palem. Betapa terbiasa aku dengan pertengkaran mereka. Namun, tetap saja aku tidak menerimanya.
          Aku memacu sepedaku kencang-kencang. Membiarkan kesiuran malam merenggut gundahku.. sekarang terlihat di depanku mulut jembatan tua yang menghubungkan kompleks perumahanku dengan kampung sebelah. Cahaya lampu malam yang temaram membentuk bayangan di sepanjang jembatan peninggalan zaman kolonial itu. Aku memacu sepedaku laksana petir. Dan sudah tak sabar lagi untuk melintasinya. Siuran angin makin deras menampar-nampar daun telingaku. Namun, entah bagaimana, tiba-tiba sebuah dorongan kuat berderu kencang sampai terpelanting sepedaku. Entah bagaimana bias membuatku melaju dengan kecepatan kilat menuju lempengan baja di pinggir jembatan tua itu. Aku sadar sesuatu yang dahsyat  telah terjadi pada diriku. Tapi aku tidak bias berbuat apa-apa, selain sedikit memalingkan muka, karena sebentar lagi takdir itu akan berada di atas diriku. Setelah itu gelap melumatkan diriku.
          Huh semoga saja aku tidak terlambat datang ke pesta Ajik. Sedan brengsek itu telah menghambat perjalananku, karena membuatku tergeletak cukup lama. Sekarang tiupan angin terdengar begitu tajam dan nyaring. Dan kayuhanku terasa lebih ringan dan cepat sekali.
          Sebentar saja aku telah berdiri di depan rumah basar itu. Hentakan music memenuhi kampong. Pesta sedang berlangsung. Aku memencet bel berkali-kali karena aku tak segera mendapat perhatian. Beberapa lama kemudian pintu terkuak dengan Wedo berdiri di tengahnya.
          “Sori aku telat …” kurasakan suaraku jauh dan dalam. Tapi kenapa Wedo terbelalak pucat dengan wajah pias ketakutan begitu? Kemudian terdengar jeritan yang melengking tinggi… membuatku melengak kaget.
    “Wuuuaaaaaa….!!!!!!”
Kemudian, tiba-tiba Wedo jatuh pingsan. Terdengar langkah-langkah bergerubukan dari dalam. Rupanya jeritan Wedo barusan dapat mengusik mereka. Sementara aku masih termangu di tempatku. Namun mengapa wajah-wajah itu terlihat tegang dan merendek ketakutan? Tatapan mata nanar dan biji mata mereka bagai hendak meloncat keluar.
          “Hei ada apa dengan kalian? Kalian tidak mengenali ku? Woi jangan melotot jelek begitu, ini aku!” ujarku dengan suaraku yang dalam dan jauh sekali. Tapi mereka malah merepet semakin ketakutan.
          “Hei aku bukan hantu!” makiku jengkel karena masih bersikap seperti orang tolol.
          “K... kamu bukan siapa-siapa. Kamu tak berkepala d-dan kamu melayang..” gumam ajik dengan susah payah, dengan suaranya yang bergetar dan ketakutan.
          Hah? Aku langsung meraba bagian atas leherku. Terasa kosong dan dingin. Hei, mana kepalaku? D-dan aku tidak menginjak ubin?
          “Huaaaaa…!!!” Aku  menjerit ketakutan, belum bisa menerima keadaanku yang begini rupa. Tak kuhiraukan teman-temanku yang langsung pingsan mendengar suaraku menjerit. Ja .. jadi sedan sialan itu telah mengubahku menjadi hantu? Aku langsung menyambar sepedaku, yang ternyata hanya sebuah patahan kayu kering. Lalu aku berbalik ke arah jembatan tua itu lagi.
          Aku harus menemukan kepalaku! Tekadku marah. Jembatan itu sudah banyak memakan korban. Mulai dari pembangunan oleh para pekerja kolonial, hingga tumbal yang dimintanya berupa anak kecil. Belum lagi beberapa kecelakaan aneh yang menyertainya. Dan sekarang giliran kepalaku!
          Sesampainya aku di mulut jembatan itu, tampak sepeda balapku yang hancur di pinngirnya. Jelas sekalibetapa keangkuhkannya yang jumawa meledek ku. Bahwa ia telah berhasil mendapatkan tumbal lagi. Huh!
          Aku bergegas ke- tempat lempengan baja tipis yang telah menebas leherku, ketika melesat kencang akibat di tabrak sedan itu dari belakang. Tampak bekas darah di sana. Kemudian aku memperkirakan kemana kira-kira terpentalnya kepalaku.
Tapi hingga berjam-jam kemudian aku sama sekali tidak berhasil menemukannya. Padahal semua sudut dan semak-semak di pinggir sungai di bawah jembatan sudah ku obrak-abrik, namun sia-sia.
          Aku tidak menemukan kepalaku. Ingin rasanya aku menangis karena sebentar lagi malam akan berganti pagi. Terpaksa pikiranku berhenti dulu. Tapi aku tidak menyerah begitu saja. Dan akan tetap mencari.
          Aku harus menemukan tempat bersembunyi sebelum langit terang. Karena jelas tidak mungkin aku berkeliaran dengan keadaan seperti ini. Dengan gundah, terpaksa aku hanya bisa mendekam di balik semak-semak smabil terus memperhatikan sekelilingku.
          Tolong jika sewaktu-waktu kalian menemukan kepalaku, KEMBALIKAN!!!!!!!!!!!!!

                                                                                            
*****

1 komentar:

Budayakan Share ^_^